Tidak sedikit orang yang pernah membeli sesuatu secara spontan karena terbawa emosi, misalnya saat sedang merasa sedih, stres, marah, atau justru terlalu senang. Padahal, barang yang dibeli sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan. Kebiasaan ini dikenal dengan istilah emotional spending atau pengeluaran emosional.
Sebagian orang mungkin menganggap kebiasaan ini sebagai hal yang wajar karena bisa memberikan kepuasan sesaat. Namun, jika terus dibiarkan dan dilakukan secara berulang, kebiasaan ini dapat memberikan dampak negatif terhadap kondisi keuangan tanpa disadari.

4 Cara Menghindari Pengeluaran Emosional
Mengendalikan diri dari keinginan untuk berbelanja ketika kondisi emosi sedang tidak stabil memang bukan hal yang mudah. Meski begitu, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menghindari emotional spending ini dan berikut diantaranya.
Kenali Faktor Pemicu Munculnya Keinginan Berbelanja
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan mencoba mengenali apa faktor yang menjadi pemicu keinginan untuk berbelanja. Apakah keinginan belanja tersebut muncul ketika sedang merasa sedih, bosan, stres, atau setelah melihat iklan dan promosi di media sosial. Dengan mengetahui penyebabnya maka akan lebih mudah mengendalikan keinginan untuk membeli barang secara impulsif.
Tunda Keputusan Belanja
Ketika muncul keinginan untuk membeli sesuatu, cobalah untuk menunda keputusan tersebut selama 24 jam. Dengan adanya jeda waktu ini bisa membantu mengurangi keinginan membeli barang secara impulsif karena ada waktu untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut memang benar-benar dibutuhkan atau sekedar keinginan sesaat saja.
Gunakan Rekening Terpisah
Sebaiknya pisahkan rekening untuk kebutuhan sehari-hari dengan rekening yang dipakai untuk tabungan atau dana darurat. Dengan cara ini, dana yang sudah disiapkan untuk kebutuhan penting tidak mudah digunakan ketika keinginan untuk berbelanja muncul akibat dorongan emosi.
Cara Aktivitas Lain untuk Mengalihkan Emosi
Masih ada cara lainnya untuk mengalihkan emosi yang dapat memicu keinginan untuk belanja secara impulsif ini. Alih-alih membuka aplikasi e-commerce, lebih baik cobalah untuk mengalihkan perhatian ke aktivitas lain yang juga tidak kalah menyenangkan. Contohnya seperti pergi menonton film di bioskop, jalan-jalan bersama teman, atau berolahraga.
Frequently Asked Questions
1. Apa yang dimaksud emotional spending?
Emotional spending atau pengeluaran emosional merupakan kebiasaan membeli barang yang dipicu oleh kondisi emosi, seperti stres, marah, bosan, sedih, cemas, atau terlalu bahagia, bukan karena kebutuhan.
2. Mengapa kebiasaan belanja karena emosi ini mesti dikendalikan?
Jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini bisa membuat pengeluaran menjadi membengkak tanpa disadari sehingga dalam jangka panjang akan mengganggu kondisi keuangan.
3. Apakah self-reward selalu termasuk emotional spending?
Tidak. Self-reward bukan termasuk emotional spending jika dilakukan secara terencana dan sesuai dengan kondisi keuangan.
4. Bagaimana caranya untuk mengurangi kebiasaan belanja karena emosi?
Pertama kenali dulu apa pemicunya, kemudian menunda pembelian, lalu alihkan perhatian ke aktivitas lainnya yang lebih positif seperti berolahraga.
